Ekonom Kalteng Nilai Kenaikan BI Rate Jadi Langkah Antisipatif Hadapi Ketidakpastian Global

PALANGKA RAYA – Keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate menjadi 5,50 persen mendapat perhatian dari berbagai kalangan, termasuk pelaku pasar dan pengamat ekonomi.

Kebijakan tersebut dinilai sebagai langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Ekonom Kalimantan Tengah, Rio Kriswana, menilai kenaikan BI Rate perlu dipahami dalam konteks dinamika ekonomi internasional yang saat ini masih dibayangi berbagai risiko, mulai dari konflik geopolitik, fluktuasi harga energi, hingga penguatan dolar Amerika Serikat.

“Situasi global saat ini bergerak sangat dinamis. Karena itu, setiap kebijakan moneter perlu dilihat secara komprehensif, termasuk dampaknya terhadap perekonomian nasional maupun daerah,” kata Rio, Rabu.

Menurutnya, ketidakpastian global mendorong investor mencari instrumen investasi yang lebih aman. Kondisi tersebut berpotensi memicu arus modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia, sehingga dapat memberi tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan pasar keuangan domestik.

Dalam kondisi demikian, lanjut Rio, kenaikan suku bunga acuan merupakan salah satu instrumen yang lazim digunakan bank sentral untuk menjaga stabilitas nilai tukar, mengendalikan inflasi, serta mempertahankan kepercayaan investor.

“Dari sisi stabilitas jangka pendek, langkah ini cukup rasional karena dapat membantu menjaga daya tarik instrumen keuangan domestik,” ujarnya.

Rio menjelaskan, peningkatan suku bunga biasanya membuat instrumen seperti deposito dan obligasi menjadi lebih menarik bagi investor. Dampaknya, tekanan terhadap rupiah dapat berkurang sekaligus membantu menahan laju inflasi, terutama yang dipicu kenaikan harga barang impor.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa kebijakan suku bunga bukan solusi tunggal untuk menjawab seluruh tantangan ekonomi nasional. Menurutnya, BI Rate lebih berfungsi sebagai instrumen stabilisasi yang memberi ruang bagi pemerintah dan pelaku ekonomi untuk memperkuat fondasi pertumbuhan.

Ia menilai fundamental ekonomi Indonesia saat ini masih relatif solid. Hal tersebut tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang stabil, inflasi yang terkendali, kondisi perbankan yang sehat, cadangan devisa yang memadai, serta konsumsi rumah tangga yang tetap menjadi motor utama perekonomian.

Selain itu, Indonesia juga memiliki modal besar berupa sumber daya alam yang melimpah, bonus demografi, serta program hilirisasi yang terus dikembangkan.

Namun, Rio mengingatkan bahwa ketahanan ekonomi nasional tetap memiliki kerentanan terhadap perubahan sentimen global.

“Fundamental yang kuat tidak berarti kebal terhadap tekanan eksternal. Perubahan sentimen investor dan pergerakan modal global tetap dapat memengaruhi kondisi ekonomi domestik,” jelasnya.

Ia juga menyoroti dampak kenaikan BI Rate terhadap pasar saham. Secara umum, kebijakan tersebut dapat menjadi sentimen negatif dalam jangka pendek karena meningkatkan biaya pinjaman bagi dunia usaha dan berpotensi menekan konsumsi masyarakat.

Selain itu, investor cenderung melirik instrumen berpendapatan tetap seperti deposito dan obligasi yang menawarkan imbal hasil lebih menarik saat suku bunga naik.

Meski demikian, Rio menekankan bahwa pergerakan pasar saham tidak selalu mencerminkan kondisi ekonomi riil.

“IHSG bergerak berdasarkan ekspektasi pasar, sedangkan ekonomi riil ditentukan oleh aktivitas produksi dan produktivitas. Karena itu, koreksi pasar saham tidak otomatis menunjukkan ekonomi sedang melemah,” katanya.

Lebih lanjut, Rio menilai kualitas investasi yang masuk ke Indonesia menjadi faktor penting dalam menjaga pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Investasi produktif seperti pembangunan industri, hilirisasi, pengembangan teknologi, dan pembangunan fasilitas produksi dinilai jauh lebih strategis dibandingkan aliran modal jangka pendek.

Menurutnya, dana portofolio atau hot money memang dapat membantu menjaga stabilitas pasar dalam jangka pendek, namun sifatnya sangat mudah berpindah mengikuti perubahan kondisi global.

“Modal jangka pendek bisa masuk dengan cepat saat kondisi menguntungkan, tetapi juga dapat keluar sewaktu-waktu ketika ada peluang yang lebih menarik di negara lain,” ujarnya.

Rio juga menyoroti pentingnya faktor kepercayaan (trust) dalam perekonomian. Ia menilai investor tidak hanya memperhatikan indikator ekonomi, tetapi juga melihat konsistensi kebijakan, kepastian hukum, serta arah pembangunan yang jelas.

“Mereka tidak hanya membeli angka pertumbuhan ekonomi, tetapi juga keyakinan terhadap masa depan,” tegasnya.

Selain itu, Rio mengingatkan munculnya fenomena Lipstick Economy atau Lipstick Effect, yakni kecenderungan masyarakat menunda pembelian barang bernilai besar seperti rumah dan kendaraan, namun tetap mengalokasikan pengeluaran untuk produk yang memberikan kepuasan emosional, seperti makanan kekinian, kopi premium, produk perawatan diri, hingga hiburan digital.

Fenomena tersebut, menurutnya, dapat menjadi salah satu indikator perubahan pola konsumsi masyarakat di tengah ketidakpastian ekonomi.

Pada akhirnya, Rio menegaskan bahwa tantangan terbesar Indonesia bukan hanya menjaga stabilitas rupiah maupun inflasi, tetapi juga membangun struktur ekonomi yang lebih mandiri dan tahan terhadap gejolak global.

Hal itu dapat dicapai melalui penguatan investasi produktif, industrialisasi, inovasi teknologi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, pendalaman pasar keuangan domestik, serta peningkatan kepercayaan terhadap arah pembangunan nasional.

“Kenaikan BI Rate menjadi 5,50 persen merupakan langkah yang dapat dipahami untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global. Namun kebijakan ini hanyalah alat untuk membeli waktu, sementara penguatan fondasi ekonomi tetap menjadi pekerjaan utama,” pungkasnya.