Hotspot Karhutla Kalteng Turun, Kewaspadaan Tetap Ditingkatkan

PALANGKA RAYA – Jumlah titik panas atau hotspot yang terindikasi berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah mengalami penurunan signifikan. Namun, pemerintah daerah tetap meningkatkan kewaspadaan karena potensi kebakaran masih dapat terjadi.

Berdasarkan data Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Tengah yang bersumber dari laman sipongi.gakkum.kehutanan.go.id, terdeteksi sebanyak 950 hotspot pada 8 September 2026 dengan tingkat kepercayaan Medium-High.

Jumlah tersebut turun hampir setengah dibandingkan sehari sebelumnya yang mencapai 1.824 titik. Bahkan, angka itu jauh lebih rendah dibandingkan kondisi pada 6 September 2026 yang menjadi salah satu titik tertinggi dengan 5.746 hotspot.

Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Tengah Agustan Saining mengatakan penurunan jumlah hotspot menjadi indikasi positif dalam upaya pengendalian karhutla, tetapi tidak boleh menjadi alasan untuk mengurangi kesiapsiagaan di lapangan.

"Hotspot menurun tidak berarti kita menurunkan kewaspadaan. Angka yang turun ini menunjukkan upaya pengendalian berjalan, tetapi potensi api masih ada dan bisa kembali meningkat sewaktu-waktu," katanya di Palangka Raya, Rabu (9/9).

Fluktuasi hotspot selama 1-8 September 2026 menunjukkan jumlah titik panas masih bergerak dinamis. Pada 1 September tercatat 7.081 titik, kemudian turun menjadi 4.861 titik pada 2 September dan 3.552 titik pada 3 September.

Jumlah hotspot kembali meningkat menjadi 4.436 titik pada 4 September dan 5.357 titik pada 5 September. Puncaknya tercatat pada 6 September dengan 5.746 titik, sebelum turun drastis menjadi 1.824 titik pada 7 September dan 950 titik pada 8 September.

Dari sebarannya, Kabupaten Pulang Pisau menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 341 titik. Selanjutnya Kotawaringin Timur 125 titik, Sukamara 123 titik, Seruyan 86 titik, Kota Palangka Raya 84 titik, Kapuas 55 titik, dan Katingan 48 titik.

Hotspot lainnya terpantau di Kotawaringin Barat sebanyak 40 titik, Barito Selatan 16 titik, Murung Raya 12 titik, Gunung Mas 10 titik, Lamandau empat titik, Barito Timur tiga titik, serta Barito Utara tiga titik.

Agustan menegaskan pengawasan dan penanganan karhutla tetap dilakukan karena status tanggap darurat masih berlaku hingga 29 September 2026.

"Kami tetap memantau setiap titik yang terdeteksi. Sinergi antara pemerintah daerah, TNI, Polri, perusahaan, serta masyarakat di lapangan menjadi kunci utama agar hotspot tidak kembali meningkat," ujarnya.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan, terutama dalam kondisi cuaca yang berpotensi mempercepat penyebaran api.

"Segera laporkan jika melihat titik api di sekitar lingkungannya," katanya.