Belajar dari Sang Juara, MKKS Katingan Bagikan Praktik Baik LCC 4 Pilar MPR RI

KATINGAN – Prestasi SMAN 2 Katingan Kuala yang berhasil menjadi Juara 1 Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat nasional 2026 menjadi momentum bagi Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA Kabupaten Katingan untuk berbagi pengalaman dan strategi pembinaan kepada sekolah lain.

Berbagi Praktik Baik LCC 4 Pilar MPR RI tersebut digelar secara daring melalui Zoom, Selasa (22/9/2026), dan diikuti kepala sekolah, guru pendamping, serta murid dari tim LCC SMA se-Kabupaten Katingan.

Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 08.30 hingga 12.00 WIB itu menghadirkan langsung pihak-pihak yang terlibat dalam perjalanan prestasi SMAN 2 Katingan Kuala, mulai dari kepala sekolah, guru pendamping hingga murid peserta LCC.

Sekretaris Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah, Safrudin, turut hadir sekaligus membuka kegiatan. Dalam sambutan yang dibacakannya, Muhammad Reza Prabowo menyampaikan bahwa keberhasilan SMAN 2 Katingan Kuala memiliki makna lebih luas daripada sekadar memenangkan sebuah perlombaan.

Prestasi tersebut dinilai menunjukkan bahwa keterbatasan geografis maupun fasilitas tidak semestinya menjadi penghalang bagi sekolah dan peserta didik untuk berkembang serta berkompetisi di tingkat nasional.

“Keterbatasan geografis bukan alasan untuk berhenti bermimpi, keterbatasan fasilitas bukan alasan untuk berhenti belajar, dan jauhnya jarak dari pusat kota bukan alasan untuk tidak mampu bersaing di tingkat nasional,” demikian pesan Muhammad Reza Prabowo dalam sambutan yang dibacakan Safrudin.

Dalam forum tersebut, Kepala SMAN 2 Katingan Kuala, Sumanto, mengungkapkan bahwa keberhasilan timnya merupakan hasil dari proses panjang. Bahkan, perjalanan menuju podium juara nasional sempat diawali dengan kegagalan.

Pada kesempatan awal mengikuti kompetisi, tim sekolah tidak berhasil melewati seleksi tingkat kabupaten. Namun, hasil tersebut tidak dianggap sebagai akhir perjalanan. Sekolah justru menjadikannya sebagai bahan evaluasi untuk mengetahui kekurangan yang perlu diperbaiki.

“Kegagalan itu kami jadikan bahan evaluasi. Kami melihat kembali apa yang kurang, kemudian kami perbaiki. Jadi, ketika ada kesempatan berikutnya, kami sudah tahu apa yang harus dipersiapkan dan apa yang harus ditingkatkan,” kata Sumanto.

Evaluasi tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam pola pembinaan yang lebih terarah. Bersama guru pendamping, sekolah memperkuat penguasaan materi, meningkatkan intensitas latihan, melakukan evaluasi secara berkala, serta mempersiapkan mental peserta didik agar mampu menghadapi tekanan kompetisi.

Upaya tersebut membuahkan hasil. SMAN 2 Katingan Kuala kembali meraih Juara 1 LCC 4 Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Tengah dan berhak mewakili daerah ke tingkat nasional.

Pengalaman dari kompetisi nasional pada tahun sebelumnya juga menjadi bahan penting dalam menyusun strategi pembinaan. Ketika itu, SMAN 2 Katingan Kuala telah berhasil menjadi juara tingkat provinsi, namun belum mampu menembus babak final nasional.

Pengalaman tersebut kemudian digunakan untuk memperbaiki berbagai aspek persiapan. Hasilnya, pada Grand Final LCC 4 Pilar MPR RI 2026 yang berlangsung di Jakarta pada 26 Agustus 2026, tim SMAN 2 Katingan Kuala mampu tampil sebagai juara nasional.

Dalam tiga sesi final, tim tersebut mengumpulkan 140 poin. Posisi kedua ditempati SMAN 8 Jakarta dari DKI Jakarta dengan 75 poin, disusul SMAN 1 Tanjung Selor dari Kalimantan Utara dengan 70 poin dan SMAN 2 Bogor dari Jawa Barat dengan 65 poin.

Kesuksesan tersebut kemudian dibagikan kepada peserta forum MKKS bukan sekadar dalam bentuk cerita kemenangan, tetapi juga mengenai proses pembinaan yang dijalankan sejak awal.

Guru pendamping memaparkan berbagai tahapan persiapan, termasuk pendalaman materi, latihan rutin, evaluasi, pembiasaan menghadapi soal dan kompetisi, hingga penguatan mental peserta didik.

Sementara itu, para murid yang menjadi bagian dari tim LCC turut menceritakan pengalaman mereka selama menjalani proses latihan dan menghadapi persaingan di tingkat nasional.

Salah satu pola yang diterapkan sekolah adalah latihan rutin dua kali dalam sepekan. Kegiatan tersebut berlangsung mulai pukul 08.00 hingga 14.00 WIB dan membutuhkan konsistensi serta komitmen baik dari peserta didik maupun guru pendamping.

Dari pengalaman tersebut, peserta kegiatan diajak melihat bahwa prestasi akademik tidak lahir secara tiba-tiba. Penguasaan materi harus dibarengi dengan latihan berkelanjutan, kedisiplinan, pendampingan, evaluasi dan kesiapan mental.

Kegiatan MKKS ini sekaligus menjadi ruang untuk memperluas praktik baik yang telah dilakukan SMAN 2 Katingan Kuala kepada sekolah-sekolah lain di Kabupaten Katingan.

Prestasi tersebut diharapkan dapat mendorong sekolah lain untuk mengembangkan pola pembinaan sesuai dengan potensi peserta didik dan kondisi masing-masing sekolah.

Lebih dari sekadar membicarakan trofi juara, forum tersebut memperlihatkan bahwa perjalanan menuju prestasi nasional dibangun melalui proses yang panjang. Kegagalan menjadi bahan evaluasi, latihan menjadi kebiasaan, dan pendampingan menjadi bagian penting dalam membentuk kesiapan peserta didik menghadapi kompetisi.

Keberhasilan SMAN 2 Katingan Kuala pun menjadi contoh bahwa peserta didik dari daerah dengan tantangan geografis sekalipun memiliki kesempatan untuk bersaing dan mengukir prestasi di tingkat nasional ketika mendapatkan pembinaan yang terarah dan berkelanjutan.